Liga Jerman: Borussia Dortmund 1-0 Werder Bremen High Pressing Dortmund yang Minim Kreativitas

Borussia Dortmund melanjutkan awal yang sempurna di Bundesliga musim ini. Setelah meraih poin sempurna di dua laga awal, semalam Dortmund kembali menuai hasil maksimal dengan mengalahkan Werder Bremen. Gol tunggal yang dicetak Robert Lewandowski sudah cukup mengantarkan Dortmund memuncaki klasemen sementara dengan 9 poin dari 3 laga.

Kemenangan tersebut memang tidak diperoleh dengan mudah. Bremen mampu memaksa lini depan Dortmund bekerja keras. Kendati sangat dominan, anak asuh Juergen Klopp ini hanya mampu mendulang sebuah gol saja.

Mencatat 32 attempts dan hanya menghasilkan satu gol, menjadi gambaran bagaimana buruknya penyelesaian akhir lini depan Dortmund. Dominasi pertandingan memang dimiliki Dortmund dengan penguasaan bola hingga 60% sepanjang pertandingan. Bandingkan dengan Werder Bremen yang hanya menghasilkan 8 attempts.

High Pressing Dortmund

Juergen Klopp menginstruksikan pasukannya untuk terus bermain di area pertahanan Bremen dengan melakukan high pressing. Para gelandang Dortmund tidak memberi kesempatan Bremen melakukan build up play di areanya sendiri.

Begitu kehilangan bola pemain Dortmund segera membentuk pertahanan berlapis untuk mencegah Bremen mengalirkan bola ke lini depan. Ini membuat lini tengah Dortmund praktis “memenuhi” lini vital yang kerap disebut sebagai engine room itu.

Taktik ini membuat Bremen mau tidak mau harus bermain menyisir sayap. Namun hanya Mehmet Ekici, pemain sayap kiri Bremen, yang relatif mampu “mengganggu” pertahanan Dortmund. Dia sendirian bekerja beras mencoba mengkreasi serangan. Sementara sisi kanan Bremen yang ditempati oleh Ozkan Yildirim lebih banyak turun membantu pertahanan untuk ikut menetralisir agresifitas Kevin Grosskreutz, full back kanan Dortmund, yang turun menggantikan Lukas Pisczek.

Hanya mengandalkan Ekici seorang, tentu membuat Bremen sangat kesulitan. Tapi di wilayahnya sendiri, Bremen relatif solid memblokade lini tengah Dortmund yang sebenarnya dominan tapi sayangnya tidak dilengkapi kreativitas dan variasi serangan.

Tiga 3 gelandang Dortmund, [Kehl, Sahin, dan Mkhitaryan] memang sangat dominan di final third Bremen, tapi mereka seringkali tumpang tindih area geraknya. Kedua double pivot, Kehl dan Sahin, yang seharusnya mengatur ritme, justru sering berbenturan posisi dengan Mkhitaryan. Maka wajar sepanjang babak pertama Dortmund tetap kesulitan membobol gawang Bremen yang dijaga Mielitz.

Kedua gelandang tengah Bremen jelas dengan mudah mementahkan serangan Dortmund akibat menumpuknya gelandang Dortmund mendekati area final third. Junuzovic dan Makiadi mampu bekerja dengan baik memotong serangan Dortmund dari maupun yang menuju tengah. Lihat gambar intercept Bremen di babak pertama berikut:

Gambar Intercept 1st half Bremen

Permainan Cepat Dortmund dan Long Ball Bremen

Kendala terbesar Dortmund di laga ini memang dalam hal mengkonversi penguasaan bola menjadi gol. Bayangkan saja, dari 32 attempts yang dilakukan ke gawang Bremen, hanya satu gol yang berhasil diciptakan.

Taktik bertahan yang dilakukan Bremen jelas membuat gawang Mielitz menjadi sulit untuk ditembus. Permainan cepat Dortmund memperparah keadaan ini. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bagaimana kedua doble pivot Kehl dan Sahin terlalu maju ke depan. Praktis, tidak ada lini kedua Dortmund yang bertugas menahan bola. Semua aliran serangan berjalan cepat ke area final third.

Hal ini bisa dimaklumi ketika Bremen mampu menguasai bola walaupun di area sendiri. Tapi, Bremen sendiri sebenarnya bermain dengan mengandalkan bola panjang ke arah flank. Selain itu, Bremen juga tidak banyak melakukan pressing dan man to man marking, lebih banyak menunggu di depan kotak pinalti.

Situasi itu semestinya membuat Dortmund berani menurunkan sedikit tempo. Tapi itu tidak dilakukan dan mereka tetap saja bermain secepat-cepatnya mengalirkan bola ke arah final third. Bola memang banyak yang masuk ke kotak penalti Bremen, tapi sangat sedikit peluang yang benar-benar matang yang diterima oleh Lewandowski maupun Marco Reus.

Krisis Kreatifitas Dortmund

Meski terus menekan sepanjang pertandingan, permainan Dortmund sebenarnya cenderung monoton. Klopp seakan kehilangan umpan-umpan kreatif, bola-bola terobosan, juga sentuhan satu dua di daerah pertahanan Bremen seperti yang ditunjukanya ketika mengalahkan Bayern di Super Cup atau saat menang telak 4-0 di kandang Augsburg.

Gambar through ball Dortmund sepanjang pertandingan

Dortmund seakan masih belum mampu ditinggalkan sosok Goetze yang pergi ke Bayern. Mkhitaryan yang digadang menggantikan Gotze juga belum mampu berbuat banyak. Peran Goetze yang memang begitu sentral musim lalu belum bisa ditutupi oleh kehadiran Mkhitaryan. Kondisi ini diperparah dengan absennya Guendogan akibat cedera yang dialaminya ketika melawan Augsburg.

Mkhitaryan masih belum padu dengan model double pivot dalam skema 4-2-3-1 ala Juergen Klopp. Pemain ini masih sering bertabrakan posisi ketika salah satu atau bahkan kedua double pivot naik menyerang.

Pola adaptasi posisi secara triangle yang sering dilakukan Goetze dengan Reuss atau Guendogan seharusnya dapat ditiru oleh Mkhitaryan. Sehingga posisinya tidak lagi berbenturan dengan gelandang Dortmund lain. Karena selain dengan gelandang di tengah, Mkhitaryan juga terkadang harus berbagi posisi dengan Reus yang sering melakukan cutting inside dari sayap kiri.

Nah, menyusul kepergian Goetze, peran Reuss sebenarnya jauh lebih vital lagi. Dia sekarang lebih banyak bermain di kotak penalti lawan melalui gerakan cutting inside. Kendati sempat membuat beberapa percobaan mencetak gol, tapi Reuss secara umum berhasil dinetralisir oleh Gebre Selassie, bek kanan Bremen.

Kesimpulan

Meski menang namun dengan jumlah attempts 32 kali dan hanya menghasilkan 1 gol jelas bukan hasil memuaskan bagi Jurgenn Klopp. Minimnya kreatifitas serangan Dortmund sejak ditinggalkan Goetze masih menjadi PR besar. Apalagi dengan misi Dortmund musim ini yang ingin menghentikan dominasi rival berat mereka Bayern Munchen.

Full Match Statistic

Bagi Werder Bremen hasil ini memang tidak terlalu mengecewakan mengingat perbedaan kualitas yang dihadapi. Paling tidak mereka masih berada di peringkat kelima klasemen dengan memperoleh 6 poin dari hasil 3 pertandingan.